Sidoarjo,http://kabarhits.id/
Mengisi momentum bulan Muharram, Kampung Edukasi Sampah Sekardangan, Sidoarjo, berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) LMI menggelar aksi sosial yang berbeda. Tak sekadar menyalurkan santunan, puluhan anak yatim dan dhuafa tingkat SD serta SMP diajak terjun langsung belajar mengelola sampah secara terpadu pada Minggu (28/6).
Kegiatan bertajuk “Muharram Green Action – Edu Aksi Pilah Sampah” ini dikemas secara interaktif oleh Kader Muda Lingkungan Kampung Edukasi Sampah. Tujuannya agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman melalui metode bermain.
Sejak pagi, para peserta dikenalkan dengan empat kategori pemilahan sampah. Yakni Organik, Anorganik, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dan juga Residu. Tidak hanya teori, mereka juga langsung mempraktikkan pengolahan sampah organik menggunakan metode Takakura dan komposter aerob.
Suasana semakin seru dengan adanya berbagai permainan edukatif, mulai dari ular tangga lingkungan, engklek, hingga simulasi penggunaan kompas untuk melatih kerja sama dan berpikir kritis..
“Saya senang sekali. Ternyata memilah sampah itu mudah dan menyenangkan. Pulang dari sini, saya ingin mulai memilah sampah di rumah agar lingkungan lebih bersih,” ujar Elvan Zahim Muslim, salah satu peserta anak dengan antusias.
Membangun Green Capital Sejak Dini, Marketing and Partnership Director Laznas LMI, Ozi Riyanto, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan upaya membangun karakter generasi muda.
“Kami ingin anak-anak yatim dan dhuafa tidak hanya menerima bantuan materi, tetapi juga pulang membawa bekal pengetahuan. Nilai sosial dan kepedulian lingkungan harus berjalan beriringan,” jelas Ozi.
Senada dengan Ozi, Koordinator Kader Muda Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Adissya Elma Fitriyah, menyebutkan bahwa keterlibatan langsung adalah kunci utama edukasi lingkungan bagi anak-anak.
“Saat mereka praktik membuat kompos dan bermain, mereka akan sadar bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah sederhana sehari-hari,” kata Adis.
Sementara itu, Edi Priyanto, Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa instan atau sekadar lewat ceramah. Perlu ada pengalaman langsung yang menyentuh hati agar anak-anak ini mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungan keluarga mereka.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin membangun Green Human Capital dan Green Social Capital. Kita membentuk masyarakat yang punya pengetahuan, keterampilan, sekaligus budaya gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” pungkas Edi.(ryn)












