
Surabaya,http://kabarhits. d
Apa arti kemerdekaan bagi Anda? Upacara bendera, lomba balap karung, atau sekadar lepas dari rutinitas kerja? Bagi komunitas pedagang tradisional di Surabaya, kata “merdeka” memiliki makna yang jauh lebih mendalam, mahal, sekaligus menyentuh hati.Pada momen peringatan HUT RI ke-81, Senin (17/8/2026) lalu,
Paguyuban Pedagang Pasar Indrakila (PPPI) Surabaya memilih cara unik untuk merayakan hari bersejarah ini. Mereka tidak menggelar lomba di dalam pasar, melainkan kompak “menutup toko” dan melakukan aksi mogok jualan massal demi satu tujuan: pergi berlibur bersama.Ratusan pedagang kecil ini bertolak meninggalkan hiruk-pikuk pasar menuju tempat wisata Sumber Maron dan Masjid Tiban di Kabupaten Malang.
Bagi mereka, merdeka yang sesungguhnya adalah ketika mereka bisa menyempatkan waktu untuk beristirahat.
Kemewahan Sebuah Kata ‘Libur’Selama ini, para pedagang Pasar Indrakila praktis bekerja tanpa mengenal tanggal merah.
Setiap hari, dari fajar hingga petang, mereka harus bertaruh nasib di lapak masing-masing demi menghidupi keluarga kecil mereka di rumah.
Libur sehari berarti kehilangan pendapatan sehari. Namun di hari kemerdekaan kemarin, ego tersebut dikesampingkan demi memupuk kebersamaan.Ketua PPPI Surabaya, Hj. Yani,
menegaskan bahwa meliburkan pasar secara massal untuk pelesiran ini sudah menjadi agenda rutin tahunan yang sakral bagi paguyuban.”Kemerdekaan pedagang yaitu liburan.
Maka dari itu, kami sebagai pengurus paguyuban mengajak para pedagang untuk berlibur ke wisata Sumber Maron dan Masjid Tiban di Malang,” ungkap Yani kepada media.Bukan Sekadar Piknik,
Tapi Rawat SolidaritasMenurut Yani, perjalanan ini bukan sekadar ajang hura-hura atau bersenang-senang menghabiskan uang. Di balik tawa para pedagang yang bermain air di Sumber Maron, ada misi besar untuk merekatkan kembali rantai solidaritas sesama pelaku UMKM agar tidak hancur digilas persaingan zaman.Sebelumnya, PPPI Surabaya juga sudah pernah menggalang kekompakan serupa lewat agenda tour ke Yogyakarta hingga ziarah religi Wali Limo.”Kekompakan, kerukunan, dan kesolidaritasan adalah kunci bagi kita semuanya.
Apa yang diperoleh di pasar, semuanya kita kembalikan ke para pedagang.
Tujuan kami untuk membina agar pedagang selalu rukun, kompak, dan solid,” jelas Yani secara gamblang.
Sentilan Tajam untuk Pemerintah Kota Di balik keceriaan momen “merdeka sehari” tersebut, terselip sebuah harapan besar dari para penggerak ekonomi akar rumput ini.
Yani menitipkan pesan terbuka agar pemerintah tidak menutup mata terhadap perjuangan para pedagang pasar tradisional.”Kami hanya pedagang kecil yang butuh support (dukungan) dari pemerintah kota.
Karena itulah yang menjadi semangat bagi kami untuk terus bertahan,” pungkas Yani.Lewat perjalanan ke Malang ini, pedagang Pasar Indrakila Surabaya berhasil membuktikan bahwa merdeka bukan hanya soal status bangsa, tetapi juga tentang kedaulatan pekerja kecil untuk menikmati hak hidup rukun dan bahagia bersama.* Red











